Nova lebih lanjut menyampaikan, pencapaian ini menjadi indikator penting bahwa iklim investasi di Aceh semakin membaik. Namun, realisasi investasi Aceh dalam bentuk angka-angka ini tidaklah membuat kita cepat puas. Sebaliknya, angka-angka tersebut menjadi tantangan untuk terus memperbaiki kinerja dan pelayanan investasi kita, sekaligus memperbaiki berbagai persoalan kemiskinan dan penggangguran Aceh serta persoalan pertumbuhan ekonomi Aceh lainnya. Dengan demikian, konsep investasi yang mengedepankan aspek environment, social, and governance (ESG) menjadi keharusan melalui pelibatan semua pihak.
Marthunis selaku Kepala DPMPTSP Aceh dalam laporannya menyatakan, kehadiran pemangku kebijakan lintas sektor dalam pertemuan ini menunjukkan bahwa kegiatan penanaman modal membutuhkan kerja bersama lintas instansi, karena penanaman modal tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan berbagai kebijakan, program/kegiatan dan intervensi dalam mencapai target investasi tahun 2022 sebesar Rp 7,3 triliun dengan melibatkan satuan kerja perangkat Aceh/kab./kota terkait seluruh Aceh dan stakeholder terkait lainnya, sekaligus menjaring usulan program/kegiatan penanaman modal kab./kota dan menghasilkan kegiatan prioritas untuk pemenuhan target realisasi penanaman modal tahun 2023-2026,” ujar Marthunis.
Rahmadhani, Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Iklim Investasi (P2IPM), DPMPTSP Aceh menambahkan bahwa kegiatan ini akan dilakukan dalam dua sesi, yaitu pagi dan sore hari.







