Begitupun saat didesak memberikan sisi pandang lain, spontan mengatakan, PJ ini akan lebih gampang menata pemerintahan, karena bukan utusan dan bukan pula sebagai wakil parpol.
Jadi bisa PJ bupati beratitute dan berbehavior netral. Asal saja alur pikirnya yang dirasuki dan dikotori oleh intrik-intrik personal parpol yang merasakan telah memenangkan kontes lalu akan menguasai pentas dan merasa berjasa mengatrol dirinya ke tampuk pimpinan pemerintah di “Negeri Meureuhom Daya” ini.
Belum tentu tidak, jika gejala para penggiring yang sedang berjalan membusungkan dada sekarang ini, akan memberikan manifestasi syahwat politiknya(pembisik), dalam alur policy (kebijakan) publik seorang PJ.Jika ini terjadi tentu akan berbahaya sekali posisi seorang netralitas yang memimpin Aceh Jaya ke depan.
Kehadiran seorang PJ negral yang sangat kental dengan dengan keilmuan seorang kepamongannya ini,diharapkan bisa mengembalikan format baru dalam tatanan pemerintah yang centang perenang dalam penempatan antara tenaga SDM berlatar kompeten skill dengan non skill dalam cyclus rotasi dan pemutasian aparaturnya.
Ungkapan ini tidak bermaksud warning (peringatan) dan bukan bermaksud menggurui katak melompat atau mengajari ikan berenang?Tapi hanya sebatas sharing pendapat belaka karena anda wartawan meminnya, lalu tuliskan pakiban crah meunan beukah (transparan sesuai lekuk retaknya).
Masa PJ sebagai dua tahun, UU yang mengikatnya hanya di atas secarik kertas.Tentu kita tidak berhasrat menontonnya adegan pencopotan di tengah jalan.”Anda itu adalah sosok figur dari belahan Barsela, tentu kita sama-sama merasa tahu dan tahu merasa!”, tegas Adnan yang ceplas ceplos ini.







