Sebagaimana diketahui, pada masa perjuangan Aceh, salah seorang Jenderal penjajah Belanda Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler, mati ditembak di halaman Masjid Raya Baiturrahman, pada 14 April 1873.
Selain itu, pada 26 Desember 2024, Masjid Raya Baiturrahman juga menjadi saksi sejarah keganasan bencana gempa dan tsunami Aceh. Baiturrahman tetap berdiri kokoh meski diguncang gempa berkekuatan 9,3 skala richter dan kencangnya terjangan tsunami. Ratusan masyarakat justru berhasil selamat saat berlindung di Masjid Raya Baiturrahman.
Kemasyhuran Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi saksi sejarah selama ratusan tahun inilah, yang membuatnya ramai dikunjungi wisatawan dari seluruh nusantara bahkan mancanegara.
“Masjid Raya Baiturrahman adalah Rumah Allah yang mewarnai sejarah perjalanan Aceh dan bangsa kita. Baiturrahman adalah wajah kita. Mari kita bergotong-royong dengan ikhlas dan penuh semangat, agar Allah menilainya sebagai sebuah ibadah,” imbau Azwardi.
“Insya Allah, dengan gotong-royong ini, Masjid Raya Baiturrahman akan semakin bersih, indah dan rapi, sehingga saat saudara-saudara kita se-Nusantara para kontingen PON XXI tiba, mereka akan semakin nyaman beribadah di sini,” pungkas Azwardi.
Selain di Masjid Raya Baiturrahman, gotong-royong Massal ASN Pemerintah Aceh juga dilaksanakan serentak di Museum Tsunami Aceh dan kuburan massal syuhada tsunami Aceh di Ulhe Lheue.
Pada kegiatan tersebut, Pj Sekda Aceh turut didampingi oleh Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh Iskandar, Kepala Dinas Syariat Islam aceh Zahroel Fajri, Kasat Pol PP dan WH Aceh Jalaluddin, Karo Isra Setda Aceh Yusrizal dan Plt Karo Adpim Setda Aceh M Gade. []







