Isra Firmansyah dalam paparannya menyampaikan bahwa RSUZA setiap harinya dikunjungi antara 1.500 sampai dengan 2.000 orang pasien yang berobat dengan berbagai keluhan.
Ramai sekali atau rata-rata satu bulan bisa mencapai sekitar 45.000-an orang pasien, baik rawat jalan, rawat inap, maupun pasien IGD.
Solusi untuk antisipasi membludaknya pasien setiap hari ke RSUZA di Banda Aceh menurut dr Isra adalah dengan hadirnya rumah sakit regional yang layak dan berkualitas di daerah-daerah regional, sebagaimana yang telah direncanakan di Meulaboh, Tapaktuan, Bireun, Langsa, dan Takengon.
Sementara itu, Ismail Rasyid, praktisi bisnis global supply chain, pemilik Trans Continent dan Royal Group, menyarankan bahwa untuk mendongkrak ekonomi dan mengentaskan kemiskinan maka Aceh harus menjadi tempat produksi sesuatu barang yang kemudian di ekspor ke berbagai negara.
Secara geografis, Aceh sangat diuntungkan jika berbagai manufactoring didirikan di Aceh untuk pasaran ekspor. Adanya berbagai pabrik tentu memerlukan ketersediaan pelabuhan ekspor yang layak.
Disinilah diperlukan kehadiran seorang gubernur yang handal dan memiliki solusi untuk kemajuan Aceh. Dan, tentu saja keberadaan ICMI Aceh sebagai civil society diharapkan perannya memberikan kontribusi pemikiran solutif kepada gubernur terpilih guna mempercepat elominasi kemiskinan menuju Aceh sejahtera,”ujar Ismail Rasyid, putra Matang Kuli Aceh Utara yang juga Dewan Pakar ICMI Aceh.
Mengakhiri pertemuan Silakwil, Ketua yang didampingi Sekretaris MPW ICMI Aceh, Prof Rajuddin, meminta kepada para pengurus daerah agar mengedepankan komunikasi yang kondusif untuk konsolidasi organisasi serta masing-masing orda membangun badan usaha ICMI guna dapat membiayai operasional organisasi.







