Tak hanya individu, para pelaku usaha juga memiliki peran strategis. “Sebagai pebisnis yang beroperasi di tanah syari’at, seharusnya mereka tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi juga mempertimbangkan aspek moral dan nilai-nilai Islam,” kata Tgk. Rusli.
Keberadaan baliho yang menampilkan pria bercelana pendek di ruang publik, menurutnya, menjadi bukti bahwa masih ada pihak yang mengabaikan prinsip-prinsip syari’at dan kearifan lokal.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menegakkan norma-norma syari’at Islam.
“Dukungan dari masyarakat, khususnya para pedagang dan pelaku usaha di Banda Aceh, sangat diperlukan agar kita bisa menjaga identitas kota ini sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Sebagai penutup, Tgk. Rusli Daud berharap agar masyarakat lebih sadar dan berperan aktif dalam menjaga syari’at Islam di Aceh.
“Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk tetap beristiqamah dalam menegakkan syari’at Islam secara kaffah di bumi Iskandar Muda,” pungkasnya. []







