“Fungsi pers itu adalah mata dan telinga rakyat. Kritik dan pengawasan adalah bentuk cinta pada daerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PWI Aceh juga menyinggung wacana akan penutupan warung kopi (warkop) pada pukul 12 malam yang dirasa bisa memberatkan bagi masyarakat, khususnya pecandu kopi.
“Kalau bisa jangan jam 12 kalilah, kami pecandu kopi, susah juga,” celetuknya, disambut gelak tawa dan tepuk tangan hadirin.
Menanggapi itu, Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdhal Khalilullah menegaskan bahwa pihaknya tetap berkomitmen membangun Banda Aceh menjadi kota yang tertib namun tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Afdhal juga mengapresiasi perhatian dari PWI terhadap berbagai program Pemko Banda Aceh untuk kepentingan pembangunan dan perbaikan pusat ibu kota provinsi Aceh.
“PR kami memang banyak, termasuk soal kopi tadi. Tapi percayalah, kami ingin memperbaiki kota ini untuk semua. Kami tidak melarang aktivitas ekonomi, justru ingin menatanya lebih baik,” ungkap Afdhal.
Afdhal juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sosial dan kehidupan masyarakat Kota Banda Aceh, terutama maraknya perempuan yang terjerumus dalam aktivitas yang tidak diinginkan.
Untuk itu, Pemko Banda Aceh bersama tim terus menggelar razia sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan moral untuk menciptakan Banda Aceh yang lebih sehat dan beradab terutama untuk penegakan syariat Islam.
Itu sebabnya, Afdhal sangat berharap PWI bersama jaringan media di jajarannya bisa terus menjadi mitra yang aktif memberikan masukan dan mengawal jalannya pemerintahan di bawah kepemimpinan Illiza Sa’aduddin Djamal dan Afdhal Khalilullah.







