Mayjen TNI Niko Fahrizal menjelaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya angka semata, tetapi mencerminkan keberhasilan strategi terintegrasi antara TNI, BULOG, dan pemerintah daerah dalam membangun ketahanan pangan yang tangguh dan berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya penguatan peran Babinsa sebagai ujung tombak di lapangan yang memahami kondisi riil petani dan pertanian di desa-desa binaannya.
Lebih lanjut, Pangdam IM menuturkan bahwa keberhasilan ini turut didukung oleh komitmen pemerintah daerah dalam memastikan harga gabah di tingkat petani tetap stabil. Kebijakan pembelian gabah dengan harga minimal Rp6.500 per kilogram dinilai sangat membantu petani untuk terus berproduksi tanpa harus khawatir soal kerugian akibat fluktuasi harga pasar.
“Seluruh Babinsa Kodam IM kami libatkan untuk mendukung penyerapan gabah petani di seluruh wilayah Aceh. Ini adalah bagian dari tugas TNI untuk selalu hadir di tengah rakyat dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan,” tegasnya.
Selain itu, Pangdam IM juga mengungkapkan bahwa Kodam IM turut berperan aktif dalam mendorong pembukaan lahan pertanian baru sebagai bagian dari upaya perluasan areal tanam.
“Dari total 11.000 hektare lahan yang diajukan, hingga saat ini sekitar 6.700 hektare telah dibuka blokir anggarannya. Kami berharap seluruh lahan ini dapat segera dioptimalkan sehingga berdampak langsung pada peningkatan produksi pangan,” ungkap Pangdam.
Di akhir keterangannya, Mayjen TNI Niko Fahrizal menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan untuk memperkuat sistem pangan nasional. Ia berharap keberhasilan di Aceh dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun sistem ketahanan pangan yang kuat, mandiri, dan berbasis kerakyatan.







