Guna memperkuat layanan kesehatan di lapangan, Sekda Aceh M. Nasir menegaskan bahwa pemerintah telah memobilisasi ratusan tenaga kesehatan (nakes) yang terbagi ke dalam beberapa gugus tugas strategis. Saat ini, sebanyak 539 nakes yang terhimpun dalam 55 tim telah diterjunkan secara tersebar ke sembilan kabupaten/kota terdampak. Selain itu, sebanyak 33 unit Emergency Medical Team (EMT) Terpadu turut dikerahkan khusus untuk menangani kasus kedaruratan medis di titik-titik paling kritis, mulai dari Pidie Jaya, Bireuen, hingga Aceh Tenggara.
Menurutnya, langkah penguatan ini juga diperluas dengan kehadiran 573 tenaga medis tambahan yang tergabung dalam 58 tim relawan lintas sektor. Tim besar ini merupakan hasil sinergi antara Kementerian Kesehatan, aliansi dokter dan apoteker seluruh Indonesia, perguruan tinggi, serta berbagai rumah sakit dan LSM swadaya. Saat ini, para relawan medis tersebut telah mencapai lokasi-lokasi pengungsian untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi para penyintas bencana berjalan optimal dan menyeluruh.
Kehadiran tim medis ini tidak hanya terpusat di fasilitas formal, tetapi juga melalui pendirian posko-posko layanan kesehatan darurat di lokasi pengungsian guna memantau kondisi fisik dan mental para penyintas.
“Tim relawan kesehatan ini adalah gabungan dari seluruh elemen kesehatan di Indonesia. Kehadiran mereka sangat krusial untuk memastikan masyarakat di daerah terisolir seperti Aceh Tengah dan Gayo Lues tetap mendapatkan akses pengobatan di tengah keterbatasan aksesibilitas,” ujar M. Nasir.[]







