“Persiapan pertama yang harus kita lakukan adalah persiapan rohani. Kita perlu menata niat, membersihkan hati dan memastikan kegembiraan menyambut Ramadhan benar-benar karena mengharap ridha Allah,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, Ramadhan tidak hanya membawa dampak spiritual, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi di tengah masyarakat. Aktivitas perdagangan meningkat, kebutuhan konsumsi bertambah dan suasana pasar menjadi lebih ramai.
“Kita harus mampu menjaga niat, bekerja sebagai bagian dari ibadah, dan meningkatkan amal tanpa rasa ujub dan riya. Keikhlasan menjadi kunci agar Ramadhan memberi dampak yang hakiki,” katanya.
Mengutip pandangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghuniyah, Tgk. Irfan menganjurkan umat Islam menyambut Ramadhan dengan memperbanyak taubat dan membersihkan diri dari dosa.
Introspeksi dan evaluasi diri, menurutnya, menjadi tahapan penting agar Ramadhan tidak hanya meningkatkan kuantitas ibadah, tetapi juga kualitas penghambaan kepada Allah Swt.
Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah saw, banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa pun selain lapar dan dahaga. Hal itu, menjadi peringatan agar puasa dilaksanakan dengan kesungguhan dan disertai pengendalian diri.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan hawa nafsu. Di era media sosial saat ini, kita harus mampu menahan diri dari menyebarkan kebencian, hoaks, serta ucapan yang menyakiti orang lain,” ujarnya.
Tgk. Irfan berharap umat Islam dapat memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih, pikiran yang tenang, dan perilaku yang membawa maslahat bagi sesama.







