Asisten I Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP, mewakili Bupati Aceh Besar, menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap festival budaya ini. Ia menilai kegiatan tersebut mampu membuka ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha.
“Pemerintah menyambut baik festival seperti Srimusim Lampuuk. Dampaknya langsung terasa pada kebangkitan UMKM dan sektor pariwisata. Kami berharap kegiatan serupa dikembangkan di kecamatan lain dengan tetap menjadikan syariat Islam sebagai landasan utama,” kata Farhan.
Di sisi lain, tokoh masyarakat Lampuuk, Tgk. Hamdan Hasyim, memanfaatkan momentum ini untuk menyampaikan aspirasi warga terkait persoalan tata ruang dan status hutan lindung yang dianggap menghambat aktivitas ekonomi.
“Masyarakat berharap pemerintah segera menuntaskan persoalan tata ruang agar kami dapat mengelola sumber daya secara aman dan berkelanjutan tanpa rasa khawatir,” ungkapnya.
Direktur Komunitas Tikar Pandan, Yulfan, menjelaskan bahwa Festival Srimusim merupakan bagian dari upaya membangun ruang dialog dalam merespons persoalan masyarakat, termasuk isu pengelolaan hutan.
“Festival ini bukan hanya soal hiburan, tapi bagaimana adat menjadi ruang dialog dengan alam, sesama, dan Tuhan,” jelas Yulfan.
Acara ini turut dihadiri oleh Anggota DPD RI Darwati A. Gani, Anggota DPRK Maulana Akbar, sejumlah kepala OPD (Disdukcapil, Disparpora, MAA, MPD), unsur Muspika, mahasiswa KKN UIN Ar-Raniry, serta masyarakat setempat. Festival tahun ini juga sekaligus memperingati satu tahun berdirinya Sekolah Adat Srimusim sebagai pusat literasi dan diskusi masa depan masyarakat berbasis nilai adat. **





