Tiga pilar utama era industri 5.0 yaitu human centric, sustainability, dan resilience. Di tahap ini tantangan semakin besar.
Sebagai kampus dengan status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH), kata Safrizal, USK memiliki lima tantangan yang harus dijawab.
Pertama, tantangan menciptakan nilai tambah. Misalnya kehadiran USK harus mampu memberikan nilai tambah untuk komoditas pertanian yang dihasilkan oleh Aceh Tengah yang dikenal sebagai sentra pertanian di Aceh.
Kedua, tantangan penguasaan teknologi. USK harus mampu menjadi kreator teknologi. Untuk mewujudkan itu, USK harus memperbanyak lini bisnis kampus. Para dekan harus menciptakan penghasilan yang nantinya dapat dijadikan modal untuk melakukan berbagai inovasi.
Ketiga, USK harus mampu melahirkan riset yang banyak untuk membantu menciptakan peluang baru.
Keempat, mendorong talenta-talenta di USK menjadi sesuatu yang memiliki nilai besar bagi dunia ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri.
Kelima, dalam menghadapi kompetisi global, USK harus mampu mengubah sumber daya menjadi keunggulan. Selanjutnya keunggulan harus mampu diubah menjadi inovasi.
“USK sering kita sebut besar. Kita harus bertanggung jawab atas nama besar itu. Aceh kaya tapi tak memiliki industri yang memadai untuk mengolah sumber daya Aceh medapatkan nilai tambah. USK harus mampu mendorong lahirnya industri yang menciptakan nilai tambah. Ini tugas Rektor. Beliau harus mampu berkomunikasi dengan stakeholder di luar kampus, supaya sumber daya bisa diubah menjadi keunggulan, ” kata Safrizal.







