Tuan Guru Fekri Juliansyah juga menegaskan posisi penting Aceh dalam sejarah perkembangan Islam dan tradisi tasawuf di Asia Tenggara.
Menurutnya, Aceh memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat penyebaran ajaran tauhid dan tasawuf, sejak masa Kesultanan Peureulak dan Samudera Pasai hingga mencapai kejayaan pada era Kesultanan Aceh Darussalam.
“Aceh merupakan pusat penyebaran ajaran tauhid tasawuf di Asia Tenggara sejak masa Kesultanan Peureulak, Samudera Pasai, hingga mencapai masa kejayaan di era Kesultanan Aceh Darussalam,” jelasnya.
Tokoh yang dikenal sebagai generasi kelima dari Syeikha Fatimah binti Syeikh Abdusshomad Al-Falimbani tersebut menilai, warisan keilmuan Islam di Aceh perlu terus dijaga dan dikembangkan melalui kegiatan pengkajian, muzakarah, serta dakwah yang melibatkan ulama lintas negara.
Soroti Perbedaan Pemahaman Keagamaan
Dalam pidatonya, Tuan Guru Fekri Juliansyah turut menyampaikan pandangannya mengenai pemahaman Wahabi yang menurutnya perlu menjadi perhatian para penggiat dan pemerhati tasawuf.
Ia mencontohkan Brunei Darussalam sebagai negara yang, menurut keterangannya, memberikan perhatian terhadap pengembangan ajaran Tauhid Sufi. Ia juga menyebut Sultan Brunei Darussalam, Sultan Haji Hassanal Bolkiah, sebagai pemimpin yang merespons positif ajaran tersebut dan menolak pemahaman Wahabi.
“Ini menjadi contoh bagi para pemimpin negara atau kerajaan di Alam Melayu-Nusantara agar serius memperhatikan persoalan pemahaman keagamaan demi kelancaran pengembangan ajaran Tauhid Tasawuf,” tegasnya.






