Menurut Taqwaddin, IKA UNAIR Aceh tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi alumni. Organisasi ini juga harus mampu menjadi jembatan antara kebutuhan pendidikan di daerah dengan sumber daya, kebijakan, dan peluang yang tersedia di perguruan tinggi.
Karena itu, ia mendorong adanya dialog kelembagaan dengan Universitas Airlangga guna mengkaji berbagai bentuk kerja sama yang sesuai dengan ketentuan penerimaan mahasiswa baru dan prinsip meritokrasi.
Upaya tersebut, katanya, dapat diwujudkan melalui pembinaan siswa berprestasi, pendampingan persiapan seleksi masuk perguruan tinggi, sosialisasi jalur penerimaan mahasiswa, informasi beasiswa, serta kerja sama dengan sekolah dan Dinas Pendidikan Aceh.
Dengan langkah konkret tersebut, semakin banyak lulusan sekolah menengah di Aceh diharapkan memperoleh informasi, persiapan, dan kesempatan yang adil untuk bersaing memasuki perguruan tinggi berkualitas.
Soroti Keadilan Pembangunan dan Kesejahteraan
Selain pendidikan, Taqwaddin turut menyoroti pentingnya keadilan pembangunan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat Aceh. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya anggaran pemerintah, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan secara merata oleh masyarakat.
Persoalan kesejahteraan, akses pendidikan, kualitas sumber daya manusia, dan kesempatan ekonomi membutuhkan kolaborasi lintas sektor serta lintas daerah.
Dalam konteks tersebut, ia memandang kehadiran Khofifah Indar Parawansa, yang juga menjabat Gubernur Jawa Timur, sebagai peluang untuk memperkuat hubungan dan kerja sama pembangunan antara Aceh dan Jawa Timur.






