Jubir JASA Aceh Utara Menilai Unjuk rasa 26 maret, Syeki hanya sensasi Political Stage

0
1485

Aceh utara, Acehinspirasi.com. | Jaringan aneuk syuhada aceh (jasa) Dpw kab. Aceh Utara, melalui juru bicara (Jubir) Zubaili Ma angkat suara Jelang 26 Maret 2021 pada ajakan unjuk rasa merusak perdamaian aceh oleh oknum yang bernama Sufaini usman alias (Syeki), Selasa, (23/03/2021).

Hal ini disampaikan zubaili Ma kepada Awak Media Mataaceh.com. “Kami mengamati apa yang dilakukan Syeki selama ini bukan hal yang positif, justru untuk menimbulkan kerusuhan yang merusak perdamaian Aceh, mengadu domba rakyat aceh dan ujaran kebencian.

kami menolak tegas unjuk rasa itu di kediaman Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe. kami mengajak kepada seluruh aneuk syuhada aceh dan rakyat aceh pada umumnya tidak terprovokasi oleh oknum yang mengajak untuk merusak”.

“Perlu kita kaji siapa syeki itu dengan lantangnya mengajak untuk merusak perdamaian, kalau dia mengaku GAM australia pasti ada satu surat pengangkatannya dan setau kami di asutralia itu tidak ada GAM yang dibentuk secara resmi oleh pimpinan GAM saat itu. sehingga ajakan yang mengatasnamakan GAM adalah abal-abal”.

“Apa yang dilakukan oleh syeki saat ini tidak terukur, tidak berlandasan strategic politik yang baik untuk aceh dan terlihat tendesius ada kepentingan pribadi Dan ini sangat aneh. Syeki terlihat jelas sangat ambisius dengan political stage.

Gambaran yang dimainkan oleh syeki sama persis seperti mengkudeta sebuah partai politik dan seharusnya dari pihak keamanan ada tindakan Yang tegas karena tindakannya membuat Sara Dan gaduh rakyat aceh, pasti kena undang-undang nya.

“Jangan hanya disaat kami menuntut keadilan aceh baru sibuk mencari solusi supaya tidak ada unjuk rasa”.

“Apabila ini dibiarkan, akan sangat mengganggu kondisi aceh saat ini sehingga diperlukan langkah tegas untuk mengakhiri pertumbuhan isu yang mengarah ke hal negatif khususnya perpecahan. dan apabila unjuk rasa terjadi sehingga mengakibatkan tumpah darah siapa yang akan bertanggung jawab? Apalagi sampai kehilangan nyawanya yang akan menambahkan anak yatim di aceh”.

“Masyarakat aceh harus cerdas dan jeli melihat sumber permasalahannya dari siapa yang valid terhadap sebuah isu. kita harus hati-hati dengan sikap politik yang kita ambil. Kita melihat pola perkembangan orang aceh dengan sangat mudah termakan omongan orang, apa saja hal yang tidak tersampaikan selalu pimpinan GAM Yang disalahkan. Kenapa demikian? Karena mereka tidak paham tupoksi kinerja Pemerintah Aceh, mereka beranggapan bahwa pimpinan GAM ini yang melaksanakan kegiatan semua sektor Yang ada di aceh”.

“Perlu kita ketahui apa yang Aceh dapatkan hari ini, buah dari perjuangan orang-orang yang bergabung ke dalam badan perjuangan Gerakan Aceh Merdeka(GAM). Ribuan orang gugur di dalam konflik panjang 30 tahun. Perjuangan yang didukung oleh mayoritas rakyat Aceh, mayoritas rakyat miskin, mayoritas kaum terbuang, mayoritas kaum teraniaya oleh ketimpangan pembangunan. Dengan demikian, GAM adalah rakyat Aceh, rakyat Aceh adalah GAM. Satu dua yang tidak sepakat dengan pendapat demikian, itu perihal lain”.

“MoU Helsinki adalah milik kita semua. Doa kita yang dikabulkan Allah. MoU Helsinki bukan semata milik elit GAM, apalagi milik partai politik. Bukan. MoU Helsinki adalah buah dari perjuangan panjang. Anugerah yang hanya dimiliki oleh Aceh”.

“Mari jaga Aceh. Bila GAM telah berjuang begitu lama dengan perlawanan bersenjata.”

Sekarang tugas kita melanjutkannya. Merawat damai tidak semudah mengobarkan perang. Mengisi perdamaian tidak semudah status Facebook dan whatsapp, beberapa orang genit yang mengatakan akan menolak MoU Helsinki”.

“Jalinan kasih kebersamaan yang sudah dibangun di Tanah Damai aceh jangan sampai ternodai oleh aksi-aksi sekelompok oknum yang berlandaskan kepentingan kelompok tertentu dan pada akhirnya mengorbankan kepentingan umum”.

“Biaya perang memang mahal tapi biaya menjaga damai lebih mahal. Maka dari itu pelihara damai untuk kesejahteraan kita semua”.

“Damai yang sudah dirasakan adalah hasil jerih payah masyarakat Aceh setelah jatuh korban ribuan jiwa dalam konflik dan akibat musibah tsunami 2004. Akibatnya semakin banyak anak yatim di Aceh”.

“Mari kita semua menanamkan rasa saling percaya, membangun komunikasi antar masyarakat dan pemerintahan termasuk. sehingga setiap informasi yang ada bisa diterima masing-masing pihak dengan baik.

“Saya melihat untuk dua faktor ini sekarang sangat berjalan dengan baik, dan saya senang melihat kehidupan masyarakat yang hari ke harinya lebih baik terutama rasa damai dan perekonomian yang terus tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu”. Tutup zubaili. (RF)