Dengan lahirnya buku ini tentu telah terjawab siapa saja sosok pejuang pemekaran di balik itu.Kita tahu Aceh Jaya ini lahir ada yang membidaninya, bukan seperti lahir anak kerbau di tengah Padang.Dengan terbitnya buku ini tentu tidak ada lagi peran ureung lhap darah bak mata peudeueng (pahlawan kesiangan).Kami tahu persis para pejuang ini tidak pernah mengharap balas jasa dan kebetulan juga mereka belum ada yang memperoleh jasa dan jabatan apa pun sejak kelahiran kabupaten ini 10 April 2002 lalu, selain beban utang yang belum kunjung terbayar sebut Anwar.
Penyerahan buku Pers Aceh dan buku sejarah Aceh Jaya untuk Pemkab Pidie Jaya
Ketua Tuha Peuet Aiyu, juga mengetahui luka liku perjuangan secara bergeriliya dengan tempat meeting secara berpindah-pindah lokasi di Banda Aceh, tempat di mana pusat panitia mengatur siasatnya ibukota provinsi Aceh itu.
Para pengambil prakarsai ini adalah mereka perantau Aceh Jaya di Banda Aceh.Hubungan darat Meulaboh-Banda Aceh sering terlockdown akibat pertikaian TNI/POLRI-GAM.
Menurut penjelasan penulis yang juga mantan Ketua Pansus Ambalat dan Perbatasan Negara DPD RI ini kepada kami, bahwa sebelumnya buku Aceh Jaya ini sudah diserahkan untuk dua pemkab.Kedua daerah itu yakni Pemkab Aceh Jaya pada Jumat, 15 Juli 2022 pada sebuah acara khusus di taman Memerial Tsunami Calang dan Pemkab Pidie Jaya.[]








