Ia mencontohkan hasil dari pengkajian usia Aceh Besar, di mana penghasilan masyarakatnya 7 berbanding 13 dengan Kota Banda Aceh.
Hampir 12 ribu. Artinya kalau orang Aceh Besar memperoleh pendapatan 150 ribu rupiah perhari, maka orang Banda Aceh bisa memperoleh penghasilan hingga mencapai 300 ribu rupiah perhari.
“Tingkat orang Banda Aceh tukang parkir saja perhari bisa bergaji 300 ribu,” katanya.
Sementara itu, Muharram menyebut bahwa ketika ditanyakan sama orang Aceh Besar, jika dua hari tidak bekerja terpaksa mereka harus berutang.
“Makanya saya bersama Syukri A Jalil, dan tim dari independen merasa terpanggil dan merupakan hal yang wajib untuk maju menjadi Cabup dan Cawabup Aceh Besar.
“Dan insha Allah masyarakat serentak menyatakan siap memenangkannya karena tujuannya adalah murni untuk melakukan perubahan Aceh Besar,”paparnya.
Dikatakan Muharram bahwa Aceh Besar adalah berada di tempat yang paling strategis, yang diapit oleh tiga sagi yakni sagi 22, 25 dan sagi 26 yang tengahnya Provinsi Aceh.
“Tapi kenyataannya hari ini kita melihat hanya berbangga menjadi orang Aceh Besar, tetapi kenyataannya meski tinggal disamping provinsi tapi Im lam rumoh.
“Tinggal disamping provinsi tingkat air bersih sulit kita rasakan. Dikhawatirkan orang Aceh Besar akan menjadi seperti orang Betawi di Jakarta.
“Siap-siap tersingkir apabila kita tidak bersatu melakukan perubahan Aceh Besar akan menjadi seperti orang Betawi,” ucapnya.
Ia juga mengatakan bahwa orang Aceh Besar setiap mengawini anak tetap harus menjual kebun dan sawahnya dulu. Karena tingkat pendapatan ekonomi masyarakat masih sangat lemah. Oleh karenanya hari ini orang Aceh Besar tetap terus terpinggir. Ia mengkhawatirkan orang Aceh Besar nantinya akan terus terpinggir dan akan tinggal di bawah kaki gunung.







