Abituren Akabri 1994 itu berharap, apa yang telah ditorehkan keempat personel jajaran Polda Aceh tersebut dapat memotivasi atlet-atlet Polri lainnya ke depan agar makin banyak atlet polri yang berprestasi.
“Kami ikut berbangga atas capaian yang diraih empat atlet polri bersama tim rugby 7s. Semoga menjadi motivasi bagi atlet polri lainnya,” harap Joko.
Di samping itu, Joko juga menyampaikan, bahwa pada saat pertandingan final tersebut berlangsung, orang tua dari Briptu Rian—salah satu atlet polri yang tergabung dalam tim rugby 7s putra—meninggal dunia, sehingga yang bersangkutan tidak dapat melanjutkan pertandingan.
“Tentunya kita semua ikut berduka cita atas meninggalnya orang tua dari Briptu Rian. Atlet kebanggaan polri. Semoga amal ibadah orang tua Briptu Rian diterima di sisi-Nya,” ucap Joko.
Untuk diketahui, tim tuan rumah Aceh harus puas dengan peringkat kedua dan mendapatkan medali perak pada cabor rugby 7s, setelah dikalahkan oleh tim DKI Jakarta dengan skor 31-12.
Pada menit-menit awal, tim DKI Jakarta langsung menguasai ritme pertandingan. Kerja sama tim, kecepatan, dan ketangkasan tim DKI Jakarta berhasil menerobos para pemain Aceh dan menambah poin.
Tim rugby 7s putra Aceh juga tidak mau ketinggalan, para pemain berusaha keras menerobos pemain DKI Jakarta. Namun, Jakarta tetap unggul pada babak pertama dengan skor 19-7.
Pada babak kedua, tim Aceh mulai memperlihatkan pola permainan terbaiknya. Gemuruh dukungan ratusan masyarakat di tribun membakar semangat mereka.
Aceh mulai mengatur ritme pertandingan. Namun, DKI Jakarta tetap memenangkan partai final Rugby 7s dan meraih medali emas. Sementara Aceh yang ikut diperkuat empat atlet polri harus berpuas hati dengan medali perak. []







