Dalam dua dekade terakhir, upaya kolaboratif dan teknologi telah membantu membangun sistem peringatan yang lebih canggih, memungkinkan penduduk di daerah rawan tsunami menerima peringatan dini.
“Aceh mendukung penuh upaya ini dan berkomitmen untuk menjaga kesiapsiagaan masyarakat,” ujar Safrizal.
Namun, Safrizal mengingatkan bahwa perubahan iklim dan dinamika global lainnya terus menghadirkan tantangan baru. Hal ini memerlukan langkah lebih jauh dalam kesiapsiagaan bencana yang mencakup seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang berada di daerah terpencil.
“Kami menyadari pentingnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat serta memperbarui data secara berkala,” tambahnya, menunjukkan tekad Aceh untuk terus beradaptasi dan berinovasi dalam menghadapi ancaman bencana.
Selain menjadi momen pembelajaran, simposium ini juga diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi konkret untuk langkah mitigasi yang lebih efektif di masa depan.
Sebagai wilayah yang pernah mengalami langsung dampak bencana tsunami, Aceh merasa memiliki tanggung jawab dalam menyumbangkan pengalaman dan pengetahuannya dalam mitigasi bencana global.
Safrizal menegaskan kesiapan Aceh untuk berkontribusi dalam upaya global, sembari berharap bahwa pertemuan ini dapat mempererat solidaritas antarnegara dalam melindungi umat manusia dari ancaman tsunami.
Simposium ini direncanakan berlangsung selama beberapa hari dengan sesi-sesi yang melibatkan diskusi mendalam dan presentasi hasil riset terbaru.
Para peserta akan membahas tantangan mitigasi bencana di era perubahan iklim, berbagi strategi inovatif, dan membangun kesepakatan untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam menghadapi bencana tsunami yang tak dapat diprediksi.






