“Meskipun ada efisiensi anggaran di berbagai sektor, daya tarik Aceh tidak berkurang. Wisatawan tetap datang untuk menikmati keindahan alam, kekayaan budaya, serta kenyamanan dan keamanan selama berada di Aceh,” tambah Almuniza.
Peningkatan kunjungan wisatawan juga tak lepas dari program unggulan Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Gubernur Muzakir Manaf dan Wakil Gubernur Fadhlullah, yang secara konsisten mendorong pengembangan pariwisata halal sebagai salah satu sektor strategis pendorong ekonomi daerah.
Melalui program ini, Pemerintah Aceh fokus pada pembangunan infrastruktur pendukung wisata halal, peningkatan kapasitas pelaku industri pariwisata, serta promosi aktif ke negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Malaysia.
“Pariwisata halal bukan hanya tren global, tapi identitas kuat Aceh sebagai wilayah yang menjunjung nilai-nilai syariat. Ini menjadi kekuatan sekaligus daya saing utama Aceh di kancah nasional dan internasional,” ujarnya.
Bertumbuhnya sektor pariwisata secara langsung berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM atau ekonomi kreatif, pengelola destinasi wisata, serta sektor transportasi dan akomodasi.
“Ini bukan sekadar angka, tapi soal keberlanjutan ekonomi masyarakat. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran uang yang dirasakan oleh masyarakat Aceh secara langsung. Kita ingin pariwisata menjadi sektor yang inklusif, memberdayakan, dan berkelanjutan,” ujar Almuniza Kamal.
Di tengah tantangan ekonomi nasional, sektor pariwisata menjadi salah satu lokomotif yang mampu mendorong pemulihan ekonomi daerah. Dengan terus meningkatkan kualitas layanan dan promosi yang tepat sasaran, Pemerintah Aceh optimis angka kunjungan akan terus bertumbuh hingga akhir tahun 2025.[]







