Delegasi UEA menyampaikan kabar bahwa pemerintah UEA telah memutuskan untuk membangun masjid dan Islamic Center di Banda Aceh. Mereka berharap Pemerintah Kota Banda Aceh segera mengirimkan surat terkait ketersediaan lahan, kategori masjid, serta kapasitas tampung jemaah.
“Kalau persetujuan sudah keluar dari pemerintah UEA sedari empat bulan lalu,” sebut Sultan.
Sementara itu, Illiza Sa’aduddin Djamal mengaku bersyukur dan menyambut baik tawaran tersebut. Ia menyatakan bahwa kehadiran masjid agung sangat dibutuhkan karena hingga kini Banda Aceh belum memiliki masjid agung yang dikelola pemerintah kota.
“Semoga membawa keberkahan bagi kota kami. Apalagi Banda Aceh saat ini belum memiliki masjid agung yang bisa dikelola oleh pemerintah kota,” ujarnya.
Terkait kebutuhan lahan, Illiza menyebutkan pemerintah kota siap menyediakan lahan yang diperlukan. Salah satu opsi yang disiapkan adalah tanah seluas tiga hektare di Kecamatan Meuraxa yang dinilai strategis dan banyak dikunjungi wisatawan.
Alternatif lainnya berada di kawasan Lambaro Skep, yakni lahan milik masyarakat yang telah memiliki pertapakan. Pemerintah kota akan segera membahas lebih lanjut detail teknis sebelum mengirimkan surat resmi kepada pihak UEA.
Illiza menambahkan, masjid agung yang direncanakan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan pengembangan umat.
“Masjid agung yang kami idamkan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga menjadi pusat pendidikan bagi umat,” demikian Illiza. []







