Keinginan sejumlah korporasi itu karena daya tarik cadangan migas Blok Andaman. Kawasan Andaman memiliki enam blok migas utama, yakni Andaman I, Andaman II, Andaman III, Central Andaman, South Andaman, dan South West Andaman.
Tahap awal pengembangan akan dimulai dari Lapangan Gas Tangkulo di Wilayah Kerja South Andaman yang dikelola Mubadala Energy. “Proyek inilah yang akan menjadi pintu masuk dimulainya hilirisasi migas di Aceh,” kata Nurlis.
Pemerintah Aceh menargetkan hilirisasi tersebut berpusat di KEK Arun sehingga selaras dengan Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 yang menempatkan pengembangan KEK Arun sebagai salah satu program prioritas. Langkah itu juga sejalan dengan arah pembangunan dalam RPJMA Aceh 2025–2029.
Nurlis menjelaskan, Lapangan Gas Tangkulo diproyeksikan memproduksi sekitar 300 MMSCFD gas. Dari jumlah tersebut, baru sekitar 160 MMSCFD yang telah memiliki komitmen penjualan melalui Gas Sale Agreement (GSA) kepada PLN.
Sisanya dinilai membuka peluang besar bagi tumbuhnya berbagai industri hilir. “Potensinya masih sangat besar untuk mendukung pertumbuhan industri di Aceh,” ujarnya.
Gas alam tersebut dapat diolah menjadi metanol dan hidrogen. Selain gas, Lapangan South Andaman juga diperkirakan menghasilkan sekitar 7.500 barel kondensat per hari. Produk ini dapat diolah menjadi nafta, kerosin, hingga gasoline yang menjadi bahan baku industri petrokimia, cat, dan bahan bakar minyak.[]







