Nurlis menjelaskannya, dalam laporan Wagub kepada Mendagri dan pihak Danantara disebutkan bawah telah terjadi lonjakan permintaan semen di Aceh.
Sebab, saat ini telah dimulai pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi serta meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai daerah.
Hasil evaluasi Pemerintah Aceh menunjukkan bahwa proyeksi kebutuhan semen di Aceh saat ini telah mencapai sekitar 4.200 ton per hari, sementara kapasitas pasokan yang tersedia baru sekitar 3.700 ton per hari, sehingga masih terjadi defisit sekitar 500 ton per hari atau sekitar 12.500 sak per hari.
Kondisi tersebut telah memicu kenaikan harga semen di pasaran dari sekitar Rp70.000/sak menjadi Rp120.000/sak, sehingga mulai berdampak terhadap masyarakat dan pelaksanaan berbagai proyek pembangunan.
“Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon dukungan untuk dapat mempercepat penambahan pasokan semen ke Aceh,” kata Wagub sebagaimana diulangi Nurlis.
“Sehingga kebutuhan masyarakat dan percepatan rehabilitasi serta rekonstruksi pascabencana dapat terpenuhi, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasaran.”
Sebelumnya, persoalan semen ini dibahas dalam rapat evaluasi kelangkaan semen yang dipimpin Asisten II Setda Aceh, Teuku Robby Izra, di Kantor Gubernur Aceh, Senin (3/8/2026). Dalam rapat, General Manager PT SBA R Adi Santosa, menyampaikan solusi kelangkaan semen dengan menambah jam operasional Terminal Pengisian Krueng Geukuh II dari 16 jam menjadi 24 jam per hari.
Selain itu, SBA juga menambah pasokan semen curah dari luar Aceh melalui tiga kapal pengiriman. Di mana, kapal pertama telah bersandar di Pelabuhan Krueng Geukuh pada Minggu (2/8/2026), dengan membawa semen curah.







