“Promosi wisata jangan hanya mengejar popularitas di media sosial. Kita juga harus memastikan lingkungan tetap terjaga, budaya dihormati, dan masyarakat memperoleh manfaat dari perkembangan pariwisata,” katanya.
Hafiz memiliki visi mewujudkan pariwisata Aceh Besar yang berdaya saing dan berkelanjutan dengan tetap berlandaskan nilai-nilai budaya serta syariat Islam. Untuk mewujudkan visi tersebut, ia menilai diperlukan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, komunitas, dan generasi muda.
Menurutnya, keterlibatan pemuda dalam pengembangan pariwisata dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memperkenalkan potensi wisata gampong, mendokumentasikan tradisi masyarakat, menjaga kebersihan destinasi, serta membantu mempromosikan produk lokal.
“Kontribusi tidak harus dimulai dari program besar. Kita bisa memulai dari lingkungan sendiri dan melakukan hal-hal sederhana yang bermanfaat bagi pengembangan pariwisata daerah,” terangnya.
Selain menjadi finalis Duta Wisata Aceh Besar 2026, Hafiz aktif di Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry. Ia juga dipercaya sebagai sekretaris pemuda Gampong Meunasah Mesjid.
Pengalaman berorganisasi tersebut menjadi bekal bagi Hafiz dalam mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama. Ia menilai, organisasi mengajarkan pentingnya tanggung jawab dalam menjalankan gagasan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Organisasi mengajarkan saya pentingnya komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab. Hal yang sama dibutuhkan dalam pengembangan pariwisata karena keberhasilannya bergantung pada keterlibatan banyak pihak,” tuturnya.






