“Kemudian untuk makalahnya tidak boleh ada kesamaan yang lebih dari 30 persen didalam karya yang ditampilkan. Setiap mereka akan diuji terkait karya yang dihasilkan itu, jika ditemukan lebih dari 30 persen mengambil referensi dari karya orang lain. Maka itu akan dianggap sebagai plagiat,” tuturnya.
Nurhayati berharap para Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Aceh untuk benar-benar menciptakan karya sendiri (orisinil) agar mampu bersaing dengan GTK lainnya se Indonesia, dan menargetkan prestasi yang diraih ini dapat ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya.
“Kita harus menciptakan karya sendiri, dengan gaya bahasa sendiri sehingga tingkat similaritasnya semakin rendah. Semakin rendah similaritasnya semakin baik,” paparnya.
Pintanya, kepada guru dan tenaga kependidikan Aceh untuk dapat memotivasi rekannya yang lain dalam mengikuti perlombaan-perlombaan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan Aceh.
Dikatakannya, Dinas Pendidikan Aceh telah melakukan berbagai upaya membekali para GTK Aceh sebelum berlomba di tingkat Nasional dengan menghadirkan narasumber dari lokal dan pusat.
“Semua itu dilakukan, agar prestasi GTK dapat meningkat setiap tahunnya,” terangnya
Sebelumnya Arizuwanda, S.E dari SMK Negeri 1 Kota Banda Aceh mengaku bersyukur atas torehan prestasi ini.
Arizuwanda, tidak menyangka akan memperoleh juara pada ajang penilaian tenaga kependidikan berprestasi Nasional tahun 2019.
“Kami melihat GTK dari pulau Jawa, seperti Jawa Tengah masih sangat mendominasi pada ajang tingkat Nasional. Tapi kita tidak boleh menyerah untuk terus belajar sehingga kita mampu membawa pulang juara di tingkat Nasional ini,” katanya.






