Menurutnya, komoditas yang dihasilkan dari bumi dan laut Aceh, kiranya dapat dimanfaatkan secara maksimal melalui peningkatan nilai tambah yang berujung pada optimalisasi multiplier effect pada setiap komoditas.
“Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, investasi juga berperan besar dalam mengurangi defisit transaksi berjalan atau yang dikenal dengan Current Account Deficit (CAD), kondisi Indonesia yang telah mengalami CAD sejak 2011, menjadikan nilai tukar Rupiah menjadi rentan, terutama akibat faktor eksternal. Kebutuhan akan valas terutama Dollar Amerika tidak dapat tercukupi dari valas yang masuk/diterima Indonesia,” katanya.
Dengan demikian, menurut Achris, bila Aceh bisa menggenjot potensi investasi daerah, maka manfaat yang diterima bukan hanya berdampak bagi pertumbuhan ekonomi Aceh, melainkan juga perekonomian nasional, serta termasuk kestabilan Rupiah.
Asisten II Sekda Aceh, Ir. Mawardi, membuka Meeting & Capacity Building Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Investasi Aceh, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Selasa (28/09/2021). “Kegiatan ini sangat penting sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas Satgas Percepatan Investasi Aceh dalam rangka pengelolaan promosi proyek investasi di Aceh,” kata Mawardi.
Menurut Mawardi, Pemerintah Aceh optimis perkembangan investasi di Aceh akan terus mengalami trend yang menggembirakan. Dalam kurun waktu 2019 – 2020, realisasi investasi di Aceh rata-rata meningkat sebesar 175 persen. Pada tahun 2019, realisasi investasi Aceh mencapai Rp.5,8 triliun, naik signifikan dari Rp.1,2 triliun di tahun 2018. Selanjutnya, realisasi investasi di tahun 2020 yang juga meningkat menjadi Rp 9,1 triliun.







