Scroll untuk baca artikel
Ads
Aceh

Mata Ie: Alarm yang Terlalu Lama Diabaikan

16
×

Mata Ie: Alarm yang Terlalu Lama Diabaikan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260801 193912

Oleh: TM Zulfikar (Aktivis & Pemerhati Lingkungan Aceh)

Banda Aceh, Acehinspirasi.com l Jika ada satu tempat yang dapat dijadikan cermin krisis air di Aceh, maka jawabannya adalah Mata Ie di Kabupaten Aceh Besar.
Selama puluhan tahun, Mata Ie dikenal sebagai salah satu sumber air paling produktif di Aceh. Airnya menghidupi ribuan keluarga, mengalir ke rumah-rumah warga melalui jaringan Perumda Tirta Mountala, mengairi aktivitas masyarakat, sekaligus menjadi penyangga kehidupan di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga sebagian Lhoknga.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, debit Mata Ie terus menunjukkan penurunan. Bahkan, pada musim kemarau tahun ini, Perumda Tirta Mountala melaporkan kondisi debit air telah mencapai level kritis sehingga distribusi air bersih kepada belasan ribu pelanggan harus dilakukan secara bergilir.

Fakta ini seharusnya menggugah kesadaran semua pihak. Sebab, yang sedang mengering bukan sekadar kolam penampungan air, tetapi salah satu sistem hidrologi paling penting di Aceh.

Yang lebih mengkhawatirkan, berbagai kajian telah lama mengingatkan bahwa penurunan debit Mata Ie berkaitan dengan menurunnya fungsi kawasan karst dan daerah resapan air.

Kekeringan yang pertama kali tercatat pada 2017 kini berulang hampir setiap musim kemarau. Bahkan masyarakat di sekitar Lhoknga dan Mata Ie mulai mengalami sumur yang mengering, kualitas air menurun, hingga harus membeli air bersih atau bergantung pada bantuan mobil tangki.

Sayangnya, peringatan demi peringatan itu belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kebijakan yang tegas. Perlindungan kawasan karst masih belum menjadi prioritas utama, sementara tekanan akibat alih fungsi lahan, eksploitasi kawasan, dan lemahnya pengawasan terus berlangsung.

Girl in a jacket