Menurut wakil ketua DPD Partai Demokrat Aceh ini, mahalnya harga kedelai saat ini akibat berkurangnya pasokan impor tetutama dari Brazil dan Argentina.
“Selama ini impor kita dari dua negara itu, tapi menurut info kedua negara ini sekarang sedang mengalami gagal panen,” ungkapnya.
Dengan demikian, kondisi ini menegaskan ketergantungan besar negara kita sebagai negeri agraris ini pada pangan impor dan di sisi lain peminat kedelai sangat tinggi.
Ampon Bram sangat meyayangkan mahalnya harga kedelai, karena ini bukan kali pertama terjadi.
“Namun pemerintah lagi lagi tidak siap memproduksi dalam negeri, dan kembali bergantung pada impor yang sebelumnya pemerintah berkoar- koar tidak lagi melakukan impor,” katanya.
Lebih lanjut dikatakan, pada kenyataannya hampir semua bahan pangan seperti garam dan lain sebagainya semua serba impor yang membuat masyarakat makin sulit mendapatkan asupan gizi.
“Mahalnya bahan pangan membuat masyarakat banyak yang mengeluh. Negeri ini kaya sumber daya alam mestinya dapat memproduksi kebutuhan pangan rakyat,” ungkap politisi demokrat ini.
Penguasa seolah tidak mampu mandiri
Ia mengatakan dirinya yakin, jika negara mengelola sendiri hasil kekayaan alam termasuk bahan pangan, maka negeri ini bisa menjadi pengahasil pangan bahkan melebihi kebutuhannya.
Tetapi sayangnya penguasa sering berdalih impor dilakukan akibat produksi, kualitas, dan stabilitas harga. Sehingga tidak heran para petani yang membiarkan tanaman mereka rusak ataupun produk mereka buang begitu saja,” tuturnya.







