“Nah, betapa ironisya, bahwa ini sama sekali bukan prestasi, bukan capaian,” kata Usman A Lamreung.
Mengapa katanya, karena memang bansos tidak akan pernah permanen menjadi obat untuk pengentasan kemiskinan.
“Karena dia hanya memberi efek sesaat, setelah itu ia akan mengalami penyusutan, miskin lagi,” katanya.
Ibarat obat, ia hanya berfungsi mengurangi rasa sakit, tapi tidak betul-betul bisa menyembuhkan penyakit.
Ia juga ibarat ombak yang menerpa bibir pantai, hanya berbuih dan bergemuruh sesaat. Dan bolak balik seperti itu terus.
Makanya angka kemiskinan di Aceh dari tahun ketahun naik turun seperti yoyo. Tidak ada trend yang konstan dan positif yang mengarah kepada peningkatan kualitas hidup rakyat Aceh.
Sehingga daerah ini terus tertinggal dari daerah lain. Padahal daerah ini memiliki sumberdaya anggaran yang melimpah.
Tampaknya klaim keberhasilan pengentasan kemiskinan yang artifisial dan cenderung membodohi rakyat ini, memang sudah menjadi stylenya Pemerintah Aceh.
Selain kepala Bappeda Aceh dan Dinas Sosial, pernyataan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang mengklaim omset pedagang kuliner meningkat milyaran rupiah pada event Aceh Culinary Festival beberapa yang digelar waktu lalu, juga tidak kalah absurdnya.
Selalu bergantung pada suntikan dana pemerintah
Eventual economy atau ekonomi eksebisi sama karakternya dengan ekonomi bansos.
Efeknya hanya sesaat, tidak permanen dan tidak berkelanjutan, serta selalu harus bergantung pada suntikan anggaran pemerintah.
Ekonomi Aceh tidak akan pernah membaik dengan kedua pendekatan ini. Jadi tampak sekali para pejabat kepala dinas dan badan di Aceh seperti tak punya visi dan strategi membangun ekonomi Aceh.







