“Kearifan lokal dari sisi budaya Aceh juga ditampilkan, ini perlu agar tidak budaya kita terkikis oleh kemajuan zaman,” tambah Bakri Siddiq.
Lanjutnya, ketika karakter masyarakat Aceh itu ditampilkan dalam karya-karya film tentu akan menjadi sebuah sarana membangkitkan kembali motivasi untuk terus melestarikan kearifan lokal tersebut.
Jamuan makan malam, selain dihadiri panitia Aceh Film Festival, juga hadir para insan film Aceh yang tergabung dalam komunitas Aceh Documentary.
Dalam kesempatan ini hadir juga Teuku Rifnu Wikana dan Direktur AFF Jamaluddin Phonna beserta sejumlah panitia AFF.
Jamaluddin Phonna pada kesempatan tersebut mengaku terharu diundang untuk makan malam bersama dan bersilaturahmi dengan PJ wali kota beserta jajaran.
“Jujur kami sangat terharu sebenarnya baru hari ini kami menginjakkan kaki di ruangan ini dan di jamu oleh Pj Wali Kota Banda Aceh,” ucapnya.
Sosok yang akrab disapa Jamal itu juga mengatakan bahwa AFF menjadi ajang para anak muda untuk membuat film-film dengan kearifan lokal dan juga kritik sosial dengan berkarya.
Di sela-sela pertemuan tersebut, turut diputarkan trailer film-film yang diproduksi oleh Adoc yang diperankan oleh T Rifnu Wikana. Film-film tersebut diantaranya Suloh, Surat Kaleng 1949 dan Night Bus.[]








