Sebagai informasi, sejak Tim Perbankan MUI berhasil membangun bank syariah pertama di Indonesia, yaitu PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada 1 November 1991, pangsa pasar perbankan syariah tidak pernah berhasil menembus level psikologis di atas 5 persen atau 5 percent trap.
Apa yang dilakukan Haizir memberikan paradgima baru bagi pengembangan perbankan syariah nasional di tanah air.
Terbukti, pasca konversi Bank Aceh, market share berhasil menembus level psikologis menjadi 5,35 persen.
Saat ini setidaknya ada dua bank umum yang telah mengikuti jejak Bank Aceh melakukan proses konversi yakni Bank NTB Syariah, dan Bank Riau Kepri Syariah.
Selain itu, saat ini sejumlah bank juga tengah melakukan proses konversi, yakni Bank Nagari, Bank Sulselbar dan Bank Bengkulu.
“Eksistensi Bank Aceh tidak hanya hadir sebagai sebuah lembaga keuangan, tetapi juga sebagai sebuah gagasan, ide, maupun cita-cita yang besar bagi masa depan instrumen arsitektur ekonomi syariah di Aceh maupun nasional,” ujar Haizir saat perayaan HUT Bank Aceh ke 49 Agustus lalu.
Di tangan Haizir, faktanya Bank Aceh mengalami pertumbuhan yang pesat.
Agenda transformasi bisnis, budaya, dan tampilan yang dicanangkannya membawa Bank Aceh adaptif terhadap perubahan yang terjadi melalui sejumlah layanan digital dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal.
Bank Aceh juga berhasil menjadi Bank syariah terbesar ketiga di Indonesia dengan 180 jaringan kantor yang terdiri atas 26 kantor cabang, 100 Cabang Pembantu, 24 Kantor Kas, dan 24 Kantor Payment Point.
Hingga triwulan III 2022, ia masih memberikan capaian positif bagi kinerja keuangan Bank Aceh.







