Scroll untuk baca artikel
Ads
Aceh

Jurus Maulidi Menjaga Pasokan Telur di Aceh

273
×

Jurus Maulidi Menjaga Pasokan Telur di Aceh

Sebarkan artikel ini
IMG 20231003 WA0031

Biasanya telur-telur itu ludes hanya dalam waktu dua hari. Jika ada lebih, barulah telur-telur itu dijual ke warung-warung yang ada di Keude Teunom. Telur Maulidi memang diminati warga. Terutama karena kualitas yang baik.

Semua telur yang dijual Maulidi baru dan segar. Berbeda dengan telur-telur yang didatangkan dari luar daerah, terutama dari Sumatera Utara, yang relatif jauh dan butuh waktu lama untuk sampai ke Aceh Jaya. Maulidi tertarik berbisnis ayam petelur setelah melihat usaha yang sama milik kerabatnya saat kuliah.

Setelah mengantongi titel sarjana teknik mesin, dia mencoba bisnis yang sama dengan modal sendiri. Dia memulai usaha itu dengan membuat kandang ayam dan mengisi kandang besar itu perlahan-perlahan, sesuai dengan isi kantong. Kandang itu sendiri dapat menampung lebih dari 1.600 ekor. Namun di awal, dia hanya mampu mengisi kandang itu dengan 500 ekor ayam.

Total modal yang dihabiskan Maulidi untuk membeli ayam, vaksin, obat-obatan, dan pakan, di luar biaya pembuatan kandang, mencapai seratusan juta. Ayam yang dia beli tidak langsung bertelur.

Maulidi harus menunggu dua hingga tiga bulan agar ayam-ayam itu cukup umur untuk menghasilkan telur.

Hingga saat itu tiba, dia tetap mengeluarkan modal untuk membeli pakan ayam. Semua menjadi lebih ringan setelah ayam-ayam itu menghasilkan dan telur-telur itu dijual ke masyarakat di Pasie Raya.

Uang hasil penjualan telur itu digunakan untuk membeli pakan yang diproduksi oleh perusahaan raksasa yang memproduksi pakan ayam.

“Keinginan saya sederhana. Saya hanya ingin masyarakat kita tidak lagi bergantung dengan pasokan telur dari luar,” kata Maulidi.

Girl in a jacket