Nurul Aini menggungkapkan pengalamannya tentang “Praja Aceh” : “Ketika kecil dulu, saya seringkali mendengar para orang tua di kampung menyebut kata ‘praja’.
“Meunyoe keumeung meukawen, payah peucocok praja ilèe. Meunyoe sama praja, meukawén laju, meunyoe hana, yu meukawén ngon ureung laén manteng (Kalau sama praja, menikah terus, kalau tidak (tidak cocok), disuruh menikah dengan orang lain saja-Red).”, kenang Nur Aini.
Namun, waktu itu pengetahuan saya tentang praja masih awam. Di samping itu, ia merasa untuk apa harus buang-buang energi mencari tahu. Lebih baik bermain dengan teman-teman.
“Tahun 2015, saat hendak menikah anak teman, saya kembali sering mendengar nama ini. Orang tua di kampung ketika itu mencoba mencocokkan praja anak teman saya dengan sang calon istri. Kata orang tua yang menerawang praja ketika itu, praja nya cocok dengan sang calon istri,” ujarnya lagi.
Katanya, nama suami diakhiri oleh di, sedangkan calon istri saya berakhir dengan ti. Di berpraja kerbau, sedangkan ti berpraja burung. Maka, dia pun diklaim cocok dengan calon istri ibarat kerbau dan burung yang saling membantu.
Kerbau di sawah, misalnya, sering dicarikan kutu oleh burung yang bertengger di punggungnya. Jadi, kalau menikah, rumah tangga mereka Insyaallah akan bahagia dan tidak akan cekcok.
Dari penjelasan orang tua tersebut, saya jadi paham praja berarti prediksi orang tua zaman dulu terhadap calon suami istri tentang baik atau tidaknya mereka menikah, memiliki rezeki atau tidak jika mereka menikah, terjadi percekcokan atau tidak dalam rumah tangga ketika menikah nanti.” Ujar Nurul Aini lagi.







