Scroll untuk baca artikel
iklan
Aceh

Gelar Crisis Management Exercise, Pemerintah Aceh Apresiasi Konsulat Amerika

76
×

Gelar Crisis Management Exercise, Pemerintah Aceh Apresiasi Konsulat Amerika

Sebarkan artikel ini
IMG 20241029 WA0072 scaled

Kini, sambung Syakir, dua dekade pasca tsunami telah mengubah wajah Aceh tidak hanya dalam hal infrastruktur, tetapi juga dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana. Hari ini, Aceh telah memiliki Pusat Peringatan Dini Tsunami yang beroperasi 24 jam, dilengkapi dengan jaringan buoy tsunami, seismograf, dan tide gauge yang tersebar di sepanjang pesisir. Sistem ini terhubung langsung dengan BMKG dan pusat peringatan tsunami internasional, memastikan informasi bencana dapat diterima dalam hitungan menit.

“Sementara itu, di sepanjang pesisir Aceh, lebih dari 50 escape building telah dibangun dengan standar tahan gempa dan tsunami. Ratusan kilometer jalur evakuasi telah dirancang dengan cermat, dilengkapi rambu-rambu yang jelas dan titik kumpul yang aman. Yang lebih membanggakan, masyarakat kita secara rutin melakukan simulasi evakuasi, memastikan setiap warga tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana mengancam,” kata Syakir.

Bahkan, pendidikan kebencanaan kini juga telah menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah di Aceh. Lebih dari seribu sekolah siaga bencana telah dibentuk, di mana anak-anak tidak hanya belajar tentang karakteristik bencana, tetapi juga praktik penyelamatan diri dan pertolongan pertama. Para guru dilatih secara berkala, dan setiap sekolah memiliki rencana kontingensi yang jelas.

Sedangkan di tingkat komunitas, Pemerintah Aceh telah membentuk 500 Gampong Siaga Bencana yang dilengkapi dengan tim tanggap darurat terlatih. Setiap gampong memiliki peta risiko, jalur evakuasi, dan prosedur tetap penanganan bencana. Forum Pengurangan Risiko Bencana yang beranggotakan berbagai elemen masyarakat aktif melakukan kajian risiko dan merencanakan program-program pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Girl in a jacket