Selain ikan, beras juga menjadi komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi, meskipun Aceh dikenal sebagai provinsi yang swasembada beras. “Beras menyumbang inflasi sebesar 0,04 persen. Padahal Aceh adalah provinsi yang swasembada beras. Kami perlu memeriksa apakah kenaikan harga beras ini disebabkan oleh masalah distribusi, cuaca, atau bencana alam,” lanjut Safrizal.
Pj Gubernur menegaskan bahwa meskipun kenaikan harga ikan dapat dimaklumi karena faktor musiman atau cuaca, kenaikan harga beras seharusnya dapat dihindari mengingat Aceh sebagai produsen utama beras. “Kami berharap kenaikan harga beras dapat dicegah, karena Aceh seharusnya tidak mengalami masalah dalam hal pasokan beras,” tambahnya.
Pj Gubernur Safrizal juga mengingatkan bahwa inflasi yang tinggi pada bulan Desember 2024 harus menjadi perhatian serius. “Kenaikan inflasi yang cukup besar pada bulan Desember perlu segera ditindaklanjuti. Kami harus memastikan agar distribusi barang-barang kebutuhan pokok berjalan lancar, dan harga-harga dapat terkendali,” ujarnya.
Safrizal juga mengungkapkan harapannya agar semua pihak bekerja sama untuk menanggulangi inflasi yang tinggi, terutama dalam menghadapi bulan-bulan mendatang. “Kita harus terus berkolaborasi untuk menjaga stabilitas ekonomi Aceh. Pemerintah akan terus berupaya mengendalikan inflasi dan memastikan kondisi ekonomi tetap baik bagi masyarakat,” tegasnya. []







