Lebih lanjut, Diwarsyah mengatakan, kolaborasi dengan seluruh pemangku
kepentingan, termasuk Bank Indonesia, dunia usaha, dan akademisi, sangatlah diperlukan untuk mencapai hasil yang optimal.
“Pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri, sinergi antara sektor publik dan swasta sangat penting dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan, kemitraan ini harus mencakup pendampingan bagi usaha kecil, pengembangan infrastruktur yang mendukung konektivitas antar wilayah, serta peningkatan literasi keuangan bagi masyarakat di berbagai lapisan,” kata Diwarsyah.
Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Rony Widijarto, mengatakan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas inflasi suatu daerah sangat berkaitan dengan tingkat kesejahteraan seperti angka kemiskinan dan pengangguran.
Rony mengatakan, pertanian menjadi sektor paling besar yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Aceh. Oleh sebab itu, seluruh pemangku kebijakan di Aceh perlu melakukan upaya yang dapat meningkatkan produksi dan nilai tambah dari pertanian di Aceh.
“Digitalisasi dan mekanisasi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan produksi pertanian,” kata Rony.
Begitupun dengan pengolahan, Rony menyebut selama ini sebagian besar produk pertanian Aceh masih diolah ke Sumut. Ia mengajak semua pihak untuk mewujudkan agar industri hilirisasi pertanian bisa digencarkan di Aceh.
Rony yakin, jika hilirisasi dan peningkatan produk pertanian di Aceh sudah berjalan dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi Aceh juga akan terus meningkat.







