“Kerja sama ini membuktikan sinergi zakat Muslim Inggris dan Indonesia dalam mendukung kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.
Deputi CEO Islamic Relief Indonesia, Candra Kirana, yang juga merupakan putra Aceh, menjelaskan bahwa setiap rumah dibangun dengan anggaran rata-rata Rp 78 juta.
Dana ini berasal dari zakat Muslim Inggris sebesar Rp 60 juta, sementara sisanya Rp 18 juta dipenuhi dari berbagai sumber, termasuk Baitul Mal Aceh Besar, PT Solusi Bangun Andalas (CSR), serta penggalangan dana melalui berbagai pihak, termasuk Edi Fadhil dan TKSK Group.
“Kami masih menghitung kelebihan dana yang terkumpul dan, insya Allah, akan dialokasikan untuk menambah unit rumah lagi,” ujar Candra.
Sementara itu, Yusrizal Puteh, Pimpinan Kantor Islamic Relief di Aceh, menjelaskan bahwa penerima manfaat adalah asnaf zakat dengan kriteria fakir atau miskin, pendapatan kurang dari Rp 20.000 per hari per orang, serta tinggal di rumah tidak layak huni dengan kondisi kerusakan sedang hingga parah.
Selain itu, penerima manfaat harus memiliki kerentanan keluarga yang tinggi, seperti memiliki anak yatim atau mengasuh anak terlantar.
“Kami berharap bantuan rumah ini membawa keberkahan bagi masyarakat dan berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs),” ujar Yusrizal.
Islamic Relief telah beroperasi di Indonesia sejak 2003 dan resmi menjadi Yayasan Relief Islami Indonesia pada 2022.
Organisasi ini berfokus pada kesejahteraan sosial dan penanganan bencana, dengan program di berbagai sektor, termasuk perumahan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. Saat ini, Islamic Relief bekerja di Aceh, Jakarta, Jawa Barat, NTB, Banten, dan Sulawesi Tengah.







