Takjil itu, seperti umumnya jajanan rakyat, dijual dengan harga terjangkau, mulai dari Rp1.000 hingga Rp15.000. Setelah dibungkus plastik kresek, Marlina menggantungkannya di motor matic yang ia tumpangi.
Momen ini bukan sekadar berburu takjil, tapi juga menjadi bukti kedekatan Marlina dengan warga Aceh. Ia tak ingin terpisah oleh jabatan atau status.
Baginya, menjadi pemimpin berarti harus merasakan apa yang dirasakan rakyat. “Saya senang melihat semangat warga di awal Ramadhan ini,” ujarnya dengan wajah berseri.
“Ini adalah momen yang tepat untuk kita saling berbagi dan memperkuat kebersamaan.”
Sebagai Ketua TP PKK Aceh periode 2025-2030, Marlina berkomitmen untuk terus mendukung pemberdayaan keluarga dan ekonomi rakyat.
Pelantikannya pada 20 Februari 2025 di Jakarta, bersamaan dengan pelantikan suaminya sebagai Gubernur Aceh, menjadi awal dari perjalanan panjangnya untuk berkontribusi lebih bagi Aceh.
Di sore itu, Marlina Muzakir bukan hanya sekadar mencari takjil. Ia hadir sebagai sosok yang merangkul, mendengar, dan merasakan denyut kehidupan warga Aceh.
Dengan caranya yang sederhana, ia mengingatkan kita bahwa kepemimpinan yang baik dimulai dari kedekatan dan kepedulian yang tulus.
Sore itu, di antara lapak takjil dan senyum warga, Marlina Muzakir membawa pesan sederhana namun penuh makna: kepemimpinan yang baik adalah tentang kehadiran, kehangatan, dan kebersamaan. []







