Scroll untuk baca artikel
iklan
Aceh

Lingkungan dan Keshalehan Sosial: Sebuah Tanggung Jawab Bersama

70
×

Lingkungan dan Keshalehan Sosial: Sebuah Tanggung Jawab Bersama

Sebarkan artikel ini
IMG 20250719 220256

Oleh: TM Zulfikar, Pemerhati Lingkungan Aceh/Dosen Universitas Serambi Mekkah

Banda Aceh, Acehinspirasi.com l Di tengah krisis lingkungan yang kian nyata, dari banjir bandang, kekeringan, hingga hilangnya biodiversitas, kita dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar, sejauh mana agama dan nilai-nilai keshalehan sosial membentuk kepedulian kita terhadap alam?

Dalam konteks masyarakat religius seperti Aceh, lingkungan semestinya bukan hanya persoalan teknis atau ekonomi, tetapi juga bagian dari moralitas kolektif. Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah dari Sang Pencipta yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab spiritual dan sosial.

Namun, realitasnya berbicara lain. Hutan dibabat, sungai tercemar, tambang ilegal dibiarkan. Ironisnya, semua terjadi dalam ruang sosial yang (konon) kental dengan nilai-nilai keagamaan. Di sinilah terjadi dikotomi antara ibadah ritual dan ibadah sosial.

Keshalehan sosial semestinya tercermin dalam cara manusia memelihara lingkungan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dunia ini hijau dan indah, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya.” (HR. Muslim). Menebang pohon sembarangan, membuang sampah ke sungai, atau menggusur kawasan mangrove demi keuntungan jangka pendek bukan hanya tindakan amoral secara ekologis, tetapi juga pengingkaran terhadap amanah ilahiah.

Kita memerlukan redefinisi keshalehan: bukan hanya soal berapa banyak rakaat shalat yang ditunaikan, tetapi sejauh mana perilaku kita menjaga lingkungan sekitar. Tidak ada gunanya masjid megah bila air wudhunya bersumber dari sungai tercemar. Tidak ada gunanya khutbah panjang tentang surga jika di luar sana, anak cucu kita kehilangan hutan, udara bersih, dan tanah subur.

Girl in a jacket