“Perdagangan dan pertanian masih menjadi tulang punggung ekonomi Aceh. Namun yang lebih menggembirakan, kini mulai muncul minat besar dari investor di sektor hilir seperti pengolahan hasil pertanian dan industri makanan,” kata Marwan.
Berdasarkan lokasi, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi daerah dengan investasi tertinggi sebesar Rp942,9 miliar, disusul Kota Lhokseumawe Rp812,9 miliar, Aceh Timur Rp684,8 miliar, Aceh Barat Rp348,6 miliar, dan Aceh Singkil Rp260,4 miliar.
Sebaran investasi yang cukup merata antara wilayah timur dan barat Aceh menunjukkan bahwa potensi ekonomi daerah semakin dikenal luas oleh para investor.
Marwan menjelaskan bahwa investasi asing yang masuk ke Aceh pada triwulan III 2025 didominasi oleh negara-negara Asia dan Eropa. Lima besar negara asal investor asing tersebut adalah Singapura – Rp56,7 miliar (29,8%), Belgia – Rp37,5 miliar (19,7%), Seychelles – Rp38,6 miliar (19,3%), Turki – Rp24,3 miliar (12,8%) dan Inggris – Rp8,8 miliar (4,6%)
“Kerja sama dengan investor dari kawasan Asia dan Eropa terus kita dorong, terutama di sektor energi, agrikultur, dan industri tekstil. Ini peluang besar untuk membuka lapangan kerja baru di Aceh,” ujar Marwan.
Marwan menambahkan jika investasi pada triwulan III tahun ini juga memberikan dampak nyata terhadap perekonomian masyarakat. Total 3.504 tenaga kerja lokal terserap melalui proyek-proyek investasi yang terealisasi. Rinciannya, 3.344 orang bekerja di sektor PMDN dan 160 orang di proyek PMA.
“Seluruh tenaga kerja yang terserap adalah pekerja lokal. Artinya, investasi yang masuk tidak hanya menambah nilai ekonomi tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh,” kata Marwan.







