Dalam sesi diskusi, perwakilan Ikatan Pemuda Jantho Lestari, Hanif, menyampaikan keprihatinannya terhadap ancaman kerusakan lingkungan, khususnya di Daerah Aliran Sungai Krueng Aceh.
Ia memaparkan sejumlah data mengenai dampak aktivitas ilegal, terutama pertambangan, yang mengancam kualitas lingkungan dan sumber air bersih bagi masyarakat Jantho hingga Banda Aceh.
Diskusi kemudian ditutup dengan perkenalan seluruh komunitas dan lembaga yang terlibat, yang disampaikan oleh Budi Saiful mewakili IHGMA.
Usai diskusi, para peserta melakukan penanaman pohon dan panen madu trigona secara simbolis. Sebanyak 70 peserta dari berbagai unsur tampak antusias mengikuti kegiatan yang memadukan aksi konservasi dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat tersebut.
Suasana semakin semarak dengan kehadiran pelaku UMKM asal Banda Aceh, Barika Coffee, yang meluncurkan produk Sanger Barika Liberica. Dalam kesempatan itu, pemilik Barika Coffee, Anugerah, menceritakan perjalanan kopi liberika yang dibeli langsung dari petani di Tangse.
Kawasan Tangse merupakan bagian dari Ekosistem Ulu Masen yang berbatasan dengan Jantho dan selama ini dikenal sebagai salah satu jalur masuk aktivitas pertambangan ilegal yang berdampak hingga ke wilayah Jantho.
Perwakilan masyarakat peternak lebah Jantho menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni menjelang HKAN, melainkan bentuk nyata kolaborasi dalam menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Road to HKAN bukan sekadar seremoni. Dengan menanam pohon kita menjaga pakan lebah. Dengan panen madu trigona kita menjaga ekonomi warga. Dua hal ini saling menguatkan untuk mewujudkan konservasi alam yang nyata,” ujarnya.







