Kerajaan Arakan yang telah dilenyapkan peninggalan sejarahnya setelah ditaklukan Burma, maka segala peninggalan kerajaan Islam Arakan baik mesjid kuno, Manuskrip, kuburan ulama dan raja dimusnahkan semuanya. maka kaum Arakan dinamakan kaum Rohingya dan menjadi manusia tanpa negeri. Tanpa sejarah tak ada masa lalu, dan tanpa masa lalu maka dianggap tidak pernah ada,” tambah Mawardi lagi.
Peusaba mengingatkan Rakyat dan Bangsa Aceh agar mengingat baik-baik kejadian yang menimpa saudara-saudara kita di Campa dan Arakan padahal kejadiannya tidak jauh dari Negeri Aceh Darussalam.
Kejadian Campa dan Arakan sama seperti kejadian Bangsa Andalusia di Spanyol yang lenyap dalam peradaban sejarah.
Aceh tidak boleh lalai dan harus sungguh – sungguh melindungi sejarahnya dan peninggalan sejarahnya.
Peusaba juga merasa heran mengapa penghancuran situs sejarah di Aceh terus berjalan secara sistematis dan terstrukur, profesional dan berlanjut tanpa henti oleh pihak tertentu, setiap kali grup pecinta sejarah dan Rakyat Aceh memprotes mereka terus melaksanakan agendanya terus tanpa terhentikan.
Peusaba mencurigai ada grand design besar di belakang ini untuk memusnahkan sejarah Aceh dan peradaban Melayu hingga lenyap.
Sejak kejadian proyek IPAL Gampong Pande Banda Aceh pembuangan tinja (kotoran manusia) dimakam ulama, penghancuran situs sejarah terus berjalan tanpa henti. Yang terbaru adalah penghancuran kawasan Makam Sultan Sayyid Jamalul Alam Badrul Munir Jamalullail, keturunan Rasulullah SAW yang sekarang menjadi kawasan Toilet, Hotel, rumah dan tempat berjualan.







