Alhudri berkisah, menjadi Camat Syiah Utama saat itu bukanlah hal yang mudah, selain letaknya yang jauh terpencil dan akses jalan yang belum teraspal, kondisi konflik bersenjata yang sedang berkecamuk saat itu membuat dirinya hanya pasrah pada takdir Tuhan.
“Karena saat itu, yang kami rasakan kematian terasa begitu dekat. Kita terhimpit antara kedua belah pihak yang sedang berkonflik,” kenang Alhudri.
Namun demikian, Alhudri mengaku tetap iklas menjalani tugasnya sebagai Camat Syiah Utama tanpa terbesit rasa ingin berhenti dan mengeluh saat itu. Bagi Alhudri Syiah Utama adalah ‘negeri metuah’ yang apabila dikerjakan dengan ikhlas maka akan mendapat ganjaran terbaik.
“Maka jika hari ini bapak dan ibu mengeluh karena jauh, berarti bapak dan ibu masih kurang bersyukur. Betapa mudah sekarang, akses jalan sudah bagus dengan adanya jalan Multi Years, kondisi juga sudah jauh lebih kondusif. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang tidak kita syukuri?” kata Alhudri.
Kunjungan kerja yang merupakan tindaklanjut dari kunjungan Sekda Aceh, dr. Taqwallah beberapa hari lalu, juga mengapresiasi perubahan sekolah lingkungan yang jauh lebih bersih dibandingkan sebelumnya.
Kendati demikian, Alhudri berpesan agar kebersihan sekolah harus selalu diterapkan melalui gerakan Bersih, Estetis, Rapi, dan Hijau (BEREH) harus diterapkan secara berkelanjutan, sehingga tidak hanya berlaku saat ada kunjungan dirinya, Sekda Aceh atau bahkan Gubernur Aceh.
Dalam kesempatan itu, Alhudri kepada pihak sekolah mengingatkan agar selalu mengawasi setiap pembangunan yang masuk ke sekolah, sehingga tidak terkesan asal jadi.








