“Kelasnya sempit. Kalau hujan, kami kena tempias hujan,” kata Rohana, pelajar kelas satu.
Seluruh guru di sekolah ini didatangkan dari SMA Negeri 19, Angkup. Jumlahnya 12 orang. Mereka harus berkendara sekitar 1,5 jam dari Angkup. Sebagian besar guru-guru yang mengajar di kelas jarak jauh itu menggunakan sepeda motor.
Karena itu, dalam pertemuan di sebuah rumah warga, Alhudri menawarkan kerjasama kepada istri prajurit TNI yang tinggal di asrama Kompi Senapan D, Yonif RK 114/SM Pameu, yang memiliki latar belakang pendidikan guru, untuk mengajar di sekolah jarak jauh itu. Sehingga guru-guru yang mengajar di SMA jarak jauh itu juga dibantu dari asrama kompi yang berjarak beberapa kilometer dari balai desa itu.
Tawaran ini disampaikan langsung kepada komandan kompi tersebut, Kapten Inf Raswan. Dia menyanggupi. Raswan juga menyatakan siap membantu pembangunan SMA pertama di Pameu.
Semangat untuk memiliki SMA yang representatif di daerah itu tergambar jelas saat warga menghibahkan tanah seluas satu hektar kepada Pemerintah Aceh. Mereka berharap di atas lahan ini Dinas Pendidikan Aceh dapat mendirikan sekolah untuk pendidikan anak-anak mereka.
Semangat yang sama juga ditunjukkan oleh warga di Jamat. Masyarakat di tempat kelahiran pejuang pada masa penjajahan Belanda itu, Aman Nyerang, berharap Pemerintah Aceh segera mendirikan bangunan SMA di kawasan itu.
Alhudri memahami benar permintaan warga. Dia menyatakan tekad untuk mendekatkan sekolah ke rumah siswa. Dengan demikian, anak-anak dapat terus mendapatkan pendidikan, sesuai jenjang, dan tetap bersama orang tua mereka setelah jam pelajaran berakhir.








