Ia berharap dengan kegiatan ini, ada solusi terhadap permasalahan yang ada, dan dapat menjadi refferensi pengambil kebijakan, baik pada level daerah maupun pusat.
“Hasil diskusi ini dalam bentuk rekomendasi, dan nantinya akan kita sampaikan ke Gubernur Lemhannas, dan DPP IKAL Pusat di Jakarta. Harapan kita, bisa jadi masukan ke RI 1 soal energi terbarukan di Aceh,” ujar Syahrizal.
Sementara dalam kesempatan itu, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Mohammad Hasan, mengatakan bahwa sumber daya alam, termasuk sumber daya energi terbarukan yang ada di Aceh, mesti dikelola dengan baik untuk kesejahteraan sebesar-besarnya kepada masyarakat. Bahwa ada korelasi antara kedaulatan energi dengan ketahanan nasional.
Direktur Eksekutif WALHi Aceh Ahmad Shalihin, mengingat bahwa transisi energi diperlukan, mengingat dampak yang ditimbulkan oleh energi fosil begitu besar.
Oleh karenanya, ia berharap proses transisi energi yang sedang dilakukan pemerintah, tidak mengorbankan lingkungan hidup.
Selanjutnya, dalam kesempatan yang sama, Pj Bupati Nagan Raya, mengakui bahwa potensi sumber daya alam dan sumber daya energi di Nagan Raya sangat besar. Namun, menurutnya berbanding terbalik, dimana masyarakatnya miskin.
Sambung Otto Syamsuddin Ishak, perlu dilakukan penataan, sehingga tidak terjadi benturan dan dampak terhadap lingkungan secara keseluruhan.
Lanjut Otto, Masyarakat Aceh dikenal sangat dinamis. Dalam konteks transisi energi ini, ESDM mesti mempertimbangkan bagaimana mengelola energi dan masyarakat ini secara bijak dan dinamis.








