Adalah bantuan modal melalui Pembiayaan KUR Syariah Bank Aceh yang dipergunakan oleh tiga sekawan ini untuk membesarkan bisnis Burgerlah. Kongsi tiga sekawan ini mendapatkan pembiayaan KUR Syariah yang seluruhnya digunakan untuk menyewa dan mendekorasi toko sesuai dengan konsep bisnis mereka.
Mereka juga menyempurnakan dapur agar tetap bisa menyajikan burger yang higienis sesuai dengan ciri khas usaha mereka sejak awal beroperasi.
JJikalautak ada aral melintang, Andika dan rekan-rekan berencana membuka usaha lebih awal dengan menyajikan sarapan ala warga Amerika Serikat, seperti pancake. “Saya belum menghitung kenaikan omzet saat ini. Tapi sejak pindah ke toko, ada kenaikan penjualan yang kami rasakan,” kata Andika.
“Pelanggan juga bisa menikmati Burgerlah di tempat. Kami mendisain tempat yang benar-benar nyaman untuk kongkow sambil menikmati burger,” tambahnya. Burgerlah juga memanfaatkan media sosial dan aplikasi penyedia jasa pengantaran makanan untuk menjangkau pelanggan.
Sebagai pendatang baru di bisnis kuliner, Andika, Dwiki dan Indra kudu hati-hati dalam mempersiapkan setiap langkah bisnis.
Mereka memulai bisnis ini dengan modal Rp 20 juta. Burgerlah membidik konsumen kelas menengah ke atas. Harga burger yang mereka jual mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 60 ribu.
Keberanian mematok harga tinggi ini dibarengi dengan jaminan mutu. Mereka hanya memilih bahan-bahan spesial untuk membuat burger. Mulai roti hingga daging, semua menggunakan bahan makanan berkualitas. Andika mengungkapkan, keistimewaan Burgerlah terdapat pada saos yang khas.







