Dengan kondisi ini, maka tidak jarang kadangkala ada Anggota legislatif dan excekutif dalam forum-forum tertentu jangankan untuk memperjuangjan hal-hal yang lebih substantif bagi kepentingan daerahnya tetapi hanya jadi bahan senyuman dan tawaan pihak lain karena keterbatasan yang dimiliki secara personal skill dan interpersonal skill Hal ini tentunya sangat sulit untuk dipahami dan dimengerti oleh para pemilih awam dan pemilih pemula.
Para pemilih awam kadangkala lebih teropsesi pada wahan-waham politik sektoral dan/atau sejarah perjuangan suatu daerah , waham ketenaran karena sering viral disuatu konten. yang sengaja dibangun untuk menunjang elektabilitas seseorang dan partai politik. Ini dapat kita lihat masih ada politisi yang memasang photo tokoh masa lalu yang sudah meninggal dimana terkadang tidak ada kolerasinya dengan tugas dan fungsi legislatif dan excekutif itu sendiri.
Sehingga persoalan bahwa seseorang yang terpilih nantinya akan berada dalam suatu sistem tata kelola pemerintahan yang bisa dikatakan 70 persennya sudah baku , sementara 30 persennya lagi membutuhkan innovasi- innovasi baru untuk dikembangkan. Yang dibutuhkan adalah personal Skill dan interpersonal skill dari seorang caleg dan calon kepala daerah secara substansi sering terlupakan.
Banyaknya Kelompok awam dan pemilih pemula ini sering dijadikan sebagai tumbal politik oleh para elit untuk digiring secara berjamaah dalam mencari dukungan. Kadangkala mereka hanya paham bahwa ada orang yang telah mengantarkan sejumlah uang atau paket padanya sebagai imbalan untuk dipilih.







