“Selain itu, dikarenakan rasa kebersamaan itu lahirlah berbagai macam komunitas seperti kesenian dan sastra.
Ini sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan dan harmoni, yang mana setiap santri dituntut untuk selalu menebar pesan-pesan damai dalam masyarakat,” ujarnya.
Salman menjelaskan, salah satu hal yang paling penting kemudian adalah lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar.
Pasalnya, para santri memang terbiasa mengaji dan mengkaji. Kondisi ini membuat mereka sering mengadakan forum kecil untuk membahas hal-hal kecil sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.
“Untuk itu, berbanggalah kalian menjadi seorang santri, banyak hal yang bisa kalian lakukan saat mondok, banyak ilmu yang bisa kalian serap untuk bekal hidup dikemudian hari,” tambahnya.
Disisi lain, Kepala Sekolah MAS RIAB Riadhi S.Pd mengatakan RIAB FAIR ke-10 ini berfokus pada bakat dan minat para santri. Kemampuan yang ada pada diri santri dapat tersalurkan dan bakat itu kemudian menjadi alat untuk menebar kebaikan.
“Kita pernah mengalami fase anak-anak Aceh sulit untuk menembus Perguruan Tinggi favorit, tapi hari ini berkat kerja keras semua pihak, hal sulit itu sudah kita lewati. Dayah RIAB, tahun yang lalu berhasil meluluskan 90% alumni nya di Perguruan tinggi favorit,” ujarnya.
Riadhi mengatakan ada 35 cabang yang akan diperlombakan dan RIAB FAIR X ini juga merupakan ajang Nasional karena ada peserta perlombaan ynag berasal dari Pulau Jawa dan Papua.







