Istri Pj Gubernur Aceh itu juga mengingatkan para siswa untuk tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengasah keterampilan lain sejak dini. Selain itu, Safriati juga menekankan pentingnya melestarikan bahasa ibu, khususnya bahasa Aceh, sebagai bagian dari identitas budaya.
“Jangan mengaku orang Aceh jika Anda tidak bisa berbahasa Aceh. Kita harus bangga dengan bahasa daerah kita,” katanya.
Sementara itu, Asisten II Sekda Aceh, Zulkifli, yang mewakili Pj Gubernur Aceh, menegaskan bahwa pangan adalah hak asasi manusia yang harus dipenuhi oleh negara.
“Pangan adalah kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi dalam jumlah yang cukup, bermutu, dan terjangkau.
Hal ini tidak boleh bertentangan dengan agama atau keyakinan masyarakat,” ujar dia. Zulkifli juga memuji upaya Dinas Pangan Aceh dalam mewujudkan ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi, serta program-program yang melibatkan perempuan dalam pemanfaatan pangan lokal guna mengurangi risiko stunting.
Hj. Safriati dan Zulkifli kemudian menyerahkan paket B2SA Goes to School kepada siswa SMA 3 Banda Aceh, paket mewarnai kepada siswa SD, serta paket gerakan pangan murah kepada masyarakat.
Kepala Dinas Pangan Aceh, Surya Rayendra, dalam sambutannya menekankan pentingnya hak atas pangan.
“Pangan adalah hak dasar manusia setelah udara dan air. Kami bangga dengan partisipasi berbagai pihak yang mendukung acara ini,” kata Surya.
Surya juga memaparkan beberapa prestasi yang diraih oleh Dinas Pangan Aceh, di antaranya sertifikasi laboratorium terbaik, penghargaan panel harga terbaik dari Bappenas, serta keberhasilan pelaksanaan program GENIUS (Gerakan Edukasi dan Pemberian Pangan Bergizi untuk Siswa). []







