Terkait kepentingan ekonomi, Aceh perlu mengembangkan ekonomi yang ramah lingkungan seperti ekowisata, jasa lingkungan, atau agroforestri.
Pendekatan ini dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan.
Disamping itu perlu dilakukanpengintegrasian nilai-nilai lokal yang ada. Aceh memiliki warisan budaya yang erat kaitannya dengan alam. Nilai-nilai lokal seperti kearifan masyarakat adat dalam menjaga hutan harus diintegrasikan ke dalam upaya konservasi modern.
Langkah-langkah lainnya adalah bagaimana kita semua memastikan pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak. Konservasi lingkungan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, LSM, sektor swasta, dan masyarakat. Pendekatan multi-pihak sangat penting untuk menghadapi tekanan ekonomi dan globalisasi.
Terkait harapan masa depan, Aceh memiliki potensi menjadi model konservasi lingkungan yang sukses di Indonesia. Dengan mengintegrasikan nilai ekologis dalam setiap kebijakan pembangunan, Aceh dapat melindungi sumber daya alamnya sambil tetap meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Konservasi bukan sekadar isu lingkungan, tetapi investasi jangka panjang yang tidak hanya dinikmati oleh generasi masa kini, tapi juga bagi generasi yang akan datang.***
Oleh: TM Zulfikar: Pemerhati Lingkungan Aceh.
Dosen Konservasi Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Serambi Mekkah.
Senior Advisor/Liasion Specalist Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).







