Scroll untuk baca artikel
Ads
NationalParlementaria

Kedisiplinan Orang Jepang Patut Diteladani

110
×

Kedisiplinan Orang Jepang Patut Diteladani

Sebarkan artikel ini
IMG 20250119 205633

Pernah suatu kali pada tahun 2015, ketika saya sedang memulai kuliah pada pagi yang sedang badai salju, terdengar ketukan pelan di pintu kelas. Semua peserta kelas terperajat. Kaget. Karena tak biasanya ada yang terlambat hadir.

Setelah saya membuka pintu, “came in” kata saya yang disambut oleh mahasiswi Jepang dengan berkali-kali membengkuk seraya berucap “I am so sorry sir, I am so sorry sir”.

Mahasiswi ini merasa sangat bersalah dan seakan telah melakukan dosa besar karena masuk kelas saat dosennya memulai kuliah.

Gestur tubuhnya yang membungkuk-bungkuk dengan wajah memelas ketakutan menjadi pelajaran bagi saya soal kedisiplinan waktu para mahasiswi Jepang.

Beda sekali dengan ketepatan waktu pada mahasiswa kita ? Yang tak merasa bersalah, apalagi merasa berdosa saat terlambat masuk kelas. Ini pelajaran pertama yang saya rekam dari budaya Jepang.

Padahal dalam ajaran Islam, berkali-kali ditegaskan agar kita disiplin waktu dengan berbagai sebutan, misalnya, demi masa, demi waktu malam, dan lain-lain yang menegaskan pentingnya kita menjaga waktu agar tidak merugi atau celaka. Tapi apa faktanya, banyak mahasiswa kita yang menyia-nyiakan waktu. Sehingga, idak produktif.

Pelajaran kedua yang saya rekam dalam ingatan adalah orang-orang Jepang menulis secara rinci setiap program dan pekerjaan yang direncanakan.

Misalnya, pertemuan kolaborasi kami ini dari tanggal 15 — 19 Januari 2025 sudah dicatat secara mendetil sekali dari hari ke hari hingga jam ke jam sejak 6 bulan lalu.

Mereka sudah terbiasa berpikir dan bekerja dengan pendekatan 5W+1H. Yaitu, apa pertemuannya, siapa saja terlibat yang melakukannya, dimana pertemuan itu dilakukan, kapan jadwal dilakukannya pertemuan, mengapa pentingnya pertemuan itu, serta bagaimana pertemuan itu dilakukan dan apa target capaiannya.

Girl in a jacket